Bulan purnama menggantung tenang, dengan wajahnya yang terang meski sesekali berselimut awan yang bergerak melayang perlahan. Ini adalah hari ke 15 kami berpuasa di negeri orang di tahun 1432H. Buat saya ini adalah yang keempat kalinya berpuasa jauh dari Indonesia. Kesetiaan pada tujuan-tujuan masa depan membuat kami memilih bertahan, meski sejujurnya kami ingin sekali menikmati lebaran di kampung halaman. Menanti bedug bersama, mendengar merdunya suara adzan, merasakan malam takbiran yang menggetarkan, semuanya menjadi kenangan yang selalu dirindukan. “Kerinduan desa nan permai, janganlah melemahkan semangat juangmu”, begitu kata sebuah syair.
Selama hidup di Jepang saya berusaha belajar banyak dari masyarakat Jepang, tentang bagaimana mereka hidup, tentang sikap dan etos kerja mereka, tentang bagaimana menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapinya, tentang berbagai hal yang saya pikir penting untuk dipelajari. Saya teringat pesan dari prof. Yoni, wakil rektor IPB, saat saya pamit untuk pergi belajar ke negeri ini. Beliau bilang,”kalau hanya ilmu pengetahuan kamu bisa belajar dimana saja, bahkan tidak perlu jauh-jauh ke Jepang. Pelajarilah juga tentang kehidupan masyarakat Jepang, bagaimana mereka mengelola dunianya sehingga bisa menjadi bangsa yang maju”.
Jepang memang tampil sebagai salah satu negara paling maju di Asia, bahkan di dunia. Peradaban material yang dibangun selama puluhan tahun telah membawa mereka pada puncak kekuatan ekonomi yang mensejahterakan. Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun sikap disiplin, etos kerja dan kekompakan yang luar biasa. Namun begitu kejayaan bangsa Jepang mulai mendapat tantangan dari bangsa-bangsa tetangganya yaitu China dan Korea. China kini mampu memaksa Jepang untuk mengoperasikan pabrik-pabriknya di China dan pada saat yang sama memaksa Jepang untuk menyerahkan semua teknologi terbarunya. Sementara Korea, dengan spirit “dendam” nya terhadap bangsa Jepang yang pernah menjajahnya, kini tampil menjadi bangsa yang paling gila kerja. Hasilnya tentu sangat nyata, perusahaan raksasa Korea seperti Samsung mampu menggeser kedudukan perusahaan raksasa Jepang seperti Sony di tingkat dunia, produk-produk Hyundai pun semakin diminati pasar otomotif dunia dan mampu bersaing dengan Honda dan Toyota.
“Tidaklah manusia memperoleh apa-apa, kecuali sebatas apa yang telah dikerjakannya”, begitu Allah mengatakan (QS. 53:39). “Tidaklah balasan dari suatu kebaikan selain kebaikan pula”, begitu Allah tegaskan dalam surat Ar-Rahman. Dengan etos kerja yang luar biasa maka menjadi sangat wajar ketika bangsa Jepang mencapai titik kemajuan yang juga luar biasa. Dan ketika Jepang tidak mampu mempertahankan etos kerja terbaiknya, mereka juga akan mengalami penurunan dan akan tergantikan oleh bangsa lain yang memiliki etos kerja yang lebih baik lagi.
Bagaimana dengan Indonesia? Presiden SBY selalu membangga-banggakan kondisi makroekonomi Indonesia yang kondusif dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berhasil menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke 16 di dunia. Pertanyaan sederhana apakah cerita keberhasilan itu cerita yang nyata? Ini yang selalu menjadi pertanyaan rakyat jelata yang merasa belum mendapatkan apa-apa dari klaim kemajuan yang ada. Selain kita perlu bertanya pada pemerintah tentang kerja terbaik apa yang telah mereka lakukan untuk kemajuan bangsa ini, mungkin kita perlu juga bertanya pada diri kita sendiri, kerja terbaik apa yang sudah kita kerjakan sehingga kita layak memperoleh hasil terbaik?
Kalau kita mampu menunjukkan etos kerja terbaik yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain, maka sangat wajar jika kita berharap untuk bisa tampil lebih maju dari bangsa-bangsa lain. “Balasan dari kesempurnaan adalah kesempurnaan”, inilah hukum dasar yang berlaku di dunia. Semoga ramadhan ini bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk bisa menampilkan kerja-kerja terbaik kita untuk kemajuan diri kita, keluarga dan bangsa.
