sharing gagasan untuk perubahan agar kehidupan berjalan wajar

Puasa di Negeri Sakura (15):”Balasan dari Kesempurnaan adalah Kesempurnaan”


Bulan purnama menggantung tenang, dengan wajahnya yang terang meski sesekali berselimut awan yang bergerak melayang perlahan. Ini adalah hari ke 15 kami berpuasa di negeri orang di tahun 1432H. Buat saya ini adalah yang keempat kalinya berpuasa jauh dari Indonesia. Kesetiaan pada tujuan-tujuan masa depan membuat kami memilih bertahan, meski sejujurnya kami ingin sekali menikmati lebaran di kampung halaman. Menanti bedug bersama, mendengar merdunya suara adzan, merasakan malam takbiran yang menggetarkan, semuanya menjadi kenangan yang selalu dirindukan. “Kerinduan desa nan permai, janganlah melemahkan semangat juangmu”, begitu kata sebuah syair.

Selama hidup di Jepang saya berusaha belajar banyak dari masyarakat Jepang, tentang bagaimana mereka hidup, tentang sikap dan etos kerja mereka, tentang bagaimana menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapinya, tentang berbagai hal yang saya pikir penting untuk dipelajari. Saya teringat pesan dari prof. Yoni, wakil rektor IPB, saat saya pamit untuk pergi belajar ke negeri ini. Beliau bilang,”kalau hanya ilmu pengetahuan kamu bisa belajar dimana saja, bahkan tidak perlu jauh-jauh ke Jepang. Pelajarilah juga tentang kehidupan masyarakat Jepang, bagaimana mereka mengelola dunianya sehingga bisa menjadi bangsa yang maju”.

Jepang memang tampil sebagai salah satu negara paling maju di Asia, bahkan di dunia. Peradaban material yang dibangun selama puluhan tahun telah membawa mereka pada puncak kekuatan ekonomi yang mensejahterakan. Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun sikap disiplin, etos kerja dan kekompakan yang luar biasa. Namun begitu kejayaan bangsa Jepang mulai mendapat tantangan dari bangsa-bangsa tetangganya yaitu China dan Korea. China kini mampu memaksa Jepang untuk mengoperasikan pabrik-pabriknya di China dan pada saat yang sama memaksa Jepang untuk menyerahkan semua teknologi terbarunya. Sementara Korea, dengan spirit “dendam” nya terhadap bangsa Jepang yang pernah menjajahnya, kini tampil menjadi bangsa yang paling gila kerja. Hasilnya tentu sangat nyata, perusahaan raksasa Korea seperti Samsung mampu menggeser kedudukan perusahaan raksasa Jepang seperti Sony di tingkat dunia, produk-produk Hyundai pun semakin diminati pasar otomotif dunia dan mampu bersaing dengan Honda dan Toyota.

“Tidaklah manusia memperoleh apa-apa, kecuali sebatas apa yang telah dikerjakannya”, begitu Allah mengatakan (QS. 53:39). “Tidaklah balasan dari suatu kebaikan selain kebaikan pula”, begitu Allah tegaskan dalam surat Ar-Rahman. Dengan etos kerja yang luar biasa maka menjadi sangat wajar ketika bangsa Jepang mencapai titik kemajuan yang juga luar biasa. Dan ketika Jepang tidak mampu mempertahankan etos kerja terbaiknya, mereka juga akan mengalami penurunan dan akan tergantikan oleh bangsa lain yang memiliki etos kerja yang lebih baik lagi.

Bagaimana dengan Indonesia? Presiden SBY selalu membangga-banggakan kondisi makroekonomi Indonesia yang kondusif dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berhasil menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke 16 di dunia. Pertanyaan sederhana apakah cerita keberhasilan itu cerita yang nyata? Ini yang selalu menjadi pertanyaan rakyat jelata yang merasa belum mendapatkan apa-apa dari klaim kemajuan yang ada. Selain kita perlu bertanya pada pemerintah tentang kerja terbaik apa yang telah mereka lakukan untuk kemajuan bangsa ini, mungkin kita perlu juga bertanya pada diri kita sendiri, kerja terbaik apa yang sudah kita kerjakan sehingga kita layak memperoleh hasil terbaik?

Kalau kita mampu menunjukkan etos kerja terbaik yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain, maka sangat wajar jika kita berharap untuk bisa tampil lebih maju dari bangsa-bangsa lain. “Balasan dari kesempurnaan adalah kesempurnaan”, inilah hukum dasar yang berlaku di dunia. Semoga ramadhan ini bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk bisa menampilkan kerja-kerja terbaik kita untuk kemajuan diri kita, keluarga dan bangsa.

Puasa di Negeri Sakura (14):”Peribadi Rujukan Alam Semesta”


Minggu ini kami, keluarga muslim The University of Tokyo kedatangan seorang Syeikh dari Pakistan. Di Jepang ini memang tidak banyak guru-guru agama yang menguasai Islam secara mendalam, sehingga ketika kedatangan seorang ustadz atau syeikh yang memiliki latar belakang ilmu agama yang mendalam rasanya seperti baterei bertemu dengan chargernya. Spirit dan energi seperti terisi kembali. Apalagi jika yang datang adalah guru-guru yang tidak hanya fasih dalam tataran teori tetapi juga aktif dalam mengaplikasikan ilmunya sehari-hari, maka pesan-pesan dan ilmu-ilmu yang disampaikan akan bergitu berkesan di hati. Dan minggu ini kami sungguh bersyukur karena kedatangan syeikh yang semacam ini.

Beliau mengatakan bahwa dunia saat ini sedang mengalami banyak sekali persoalan besar. Dari mulai kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, penidasan sampai penjajahan, baik fisik, mental maupun kebudayaan. Negeri-negeri muslim dan kaum muslimin hari ini seringkali menjadi objek yang paling menderita dalam pergaulan antar bangsa. Di negeri yang muslim mayoritas, mereka tak mampu berbuat banyak untuk bangsa dan agamanya karena kebanyakan negeri-negeri yang mayoritas penduduknya muslim dipimpin oleh pemimpin-pemimpin boneka yang eksistensinya diciptakan dan diperuntukkan bagi kepentingan asing yang berlawanan dengan aspirasi rakyatnya. Sementara ketika muslim menjadi minoritas seperti di negeri-negeri barat, mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk bangsa dan agamanya, karena mereka umumnya tertindas, mengalami diskriminasi dan tak bebas mengekspresikan segala potensi yang dimilikinya. Pendek kata, menjadi muslim adalah password untuk menjadi manusia teraniaya yang tidak memiliki hak untuk membela diri dan memperjuangkan hak-hak nya.

Dalam situasi yang seperti ini apa yang harus dilakukan? Beliau menjelaskan akan pentingnya menjadi role model, menjadi pribadi teladan yang dapat menjadi magnet perubahan. Da`wah bil hal, menyampaikan kebaikan bukan hanya dengan kata-kata melainkan juga dengan tindakan nyata adalah sesuatu yang utama. Ketika kita mengatakan bahwa Islam adalah konsep yang sempurna, maka kita dituntut untuk menjadi manusia pertama yang mempraktekkannya. Publik ingin tahu bagaimana wujud pribadi paripurna yang dilahirkan dari konsep Qur`an, betulkah dia pribadi sempurna yang bisa menjadi standar acuan kebaikan bagi semua, ataukah hanya manusia biasa yang tiada beda dengan mereka yang tidak mengenal Qur`an.

Daya tarik Islam yang dibawa oleh rasulullah saw sesungguhnya tidak semata terletak pada kesempurnaan konsepnya, melainkan juga pada kesempurnaan pribadi yang dilahirkan dari konsep tersebut. Muhammad SAW sendiri adalah pribadi teladan yang mampu menjadi magnet perubahan bukan dari retorika kata yang disampaikan, melainkan dari kesempurnaan akhlak yang ditampilkan. Dan kepribadian Muhammad SAW tersebut tidak lain adalah refleksi dari ajaran Qur`an itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Aisyah.

Ramadhan adalah syahrul Qur`an, bulan dimana Qur`an pertama kali diturunkan. Turunnya Qur`an bukan semata untuk membebaskan manusia dari kegelapan, tapi juga menjadi petunjuk bagaimana hidup ini harus dijalankan, menjadi panduan berfikir, bersikap dan bertindak bagi seorang muslim. Mari kita berusaha menjadi pribadi terbaik, menjadi pribadi yang layak diteladani dan diikuti, menjadi role model bagi manusia di dunia, dan pada akhirnya dengan Qur`an kita menjadi magnet perubahan untuk dunia yang lebih aman dan bebas dari ketidakdilan, penindasan dan penjajahan. Dengan menyandarkan diri pada Qur`an dalam berfikir, bersikap dan bertindak, maka suatu hari nanti akan terjadi dimana menjadi muslim adalah password untuk menjadi manusia rujukan bagi kebaikan alam semesta. Semoga.

Puasa di Negeri Sakura (13): “Tauhid Memberanikan dan Memuliakan”


Sabtu, 13 Ramadhan 1432 H, berita-berita nasional masih di hebohkan oleh penangkapan Nazarudin  yang beberapa bulan ini menjadi buronan negara dengan tuduhan kasus korupsi yang membelitnya. Nazarudin lari ke berbagai negara, bersembunyi dari kejaran polisi, menjadi manusia penakut yang tidak berani menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Jabatannya yang terhormat sebagai anggota dewan tidak membawanya menjadi manusia utama, menjadi manusia mulia yang bisa menjadi teladan bagi masyarakatnya. Malah sebaliknya Jabatan itu telah membawanya pada status yang hina di mata rakyat Indonesia. Kesuksesannya dalam politik dan bisnis tidak bisa dinikmatinya dalam waktu yang lama, malah sebaliknya, ancaman penjara sudah di depan mata.

Saya teringat pada ucapan HOS Cokroaminoto, pahlawan nasional yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk perjuangan mengusir penindasan dan penjajahan di Indonesia. HOS Cokroaminoto mengatakan,”Tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu hanyalah bisa tercipta karena tauhid saja. Tegasnya, menetapkan lahir bathin bahwa tidak ada sesembahan melainkan Allah saja”.

Pelajaran dasar dari tauhid dalam Islam adalah bagaimana kita membebaskan diri dari penghambaan selain hanya kepada Allah swt semata. Tauhid ini yang telah melahirkan keberanian seorang budak seperti Bilal bin Rabbah untuk hidup bersama Islam meski harus berhadapan dengan berbagai penyiksaan. Tauhid ini yang telah memuliakan Umar bin Khatab, seorang preman yang pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup, di kemudian hari di percaya untuk menjadi Khalifah, bahkan termasuk dalam jajaran khalifaurrasyidin.

Bagaimana Bilal dan Umar menjadi manusia yang berani dan mulia? Hal itu tidak lain karena mereka berhasil membebaskan dirinya dari keterikatan dan kecintaan pada hal lain selain pada Allah swt. Lihatlah doa umar ketika beliau mengatakan, “Ya Allah jadikanlah dunia dalam genggamanku, dan jangan kau jadikan dunia dalam hatiku”. Keterikatan pada Allah yang kuat dan bukan pada jabatan, menjadikan Umar sebagai penguasa yang tidak pernah takut dilengserkan dari singgasananya, oleh karenanya dia berusaha menjadi khalifah yang amanah, tegas dan adil. Dengan hanya menghambakan diri pada Allah, Umar tidak merasa harus mengambil harta negara untuk kemewahan hidupnya. Bahkan istana Umar dikenal hanyalah beratapkan langit, karena dia sering tertidur di bawah pohon.

Ya, orang-orang yang tidak memiliki tanggungan tidak akan memiliki beban apapun sehingga merasa merdeka, berani mengekspresikan pikiran dan tindakannya secara bebas tanpa perasaan takut kehilangan atau takut akan adanya tekanan-tekanan. Itulah mengapa mereka yang benar-benar bersih dari penghambaan pada harta dan tahta akan lantang bicara menyuarakan kebenaran. Sebaliknya, mereka yang masih terikat hatinya pada harta dan tahta akan kelu lidahnya jika harus bicara kebenaran, karena kebenaran justru dimaknai sebagai ancaman bagi dirinya.

Puasa melatih kita untuk secara tulus melakukan penghambaan hanya kepada Allah swt. Kita berpuasa sama sekali bukan atas tekanan manusia atau rasa sungkan pada siapapun melainkan karena benar-benar ingin menjalankan perintah Allah swt, karena memang tidak ada yang bisa memverifikasi kita sedang puasa atau tidak kecuali kita dan Allah saja. Puasa melatih kita untuk menjadi manusia yang merdeka, tidak terikat pada kecintaan yang berlebih pada harta maupun tahta. Semoga setelah ramadhan nanti kita benar-benar bisa menjadi manusia yang merdeka, manusia yang berani dan mulia.

Puasa di Negeri Sakura (12): “Hakekat Kemanusiaan Kita”


Jum`at ke dua ramadhan 1432, hari masih sangat terik, ketika Saya dan anak pertama saya, Haidar, bergegas menuju kampus untuk sholat jum’at.  Selain sholat Jumat di kampus, hari ini memang kami berencana untuk buka puasa bersama di kampus. Buka puasa bersama yang dilakukan oleh komunitas muslim di universitas ini dilakukan setiap tahun dengan mengundang mahasiswa dan dosen-dosen yang orang Jepang. Acara ini memang bagian dari upaya komunitas muslim di sini untuk mengenalkan Islam dan budaya Islam.

Paling tidak kami memiliki tiga event besar dalam satu tahun yang digunakan untuk mengenalkan Islam kepada orang Jepang. Pertama seminar tentang nabi Muhammad SAW. Dengan acara ini kita ingin mengenalkan sosok manusia agung yang bisa menjadi role model bagi semua manusia, termasuk bagi orang-orang Jepang. Kedua mengenalkan khasanah budaya Islam melalui pengenalan makanan yang dilakukan saat Mei Fastival berlangsung di kampus. Dan ketiga adalah yang baru saja kami adakan, yaitu buka puasa bersama dengan mengundang orang-orang Jepang.

Sebelum berbuka puasa, dilakukan seminar kecil mengenai Islam dan puasa untuk orang-orang Jepang yang ingin mengenal Islam dan budaya Islam. Jumlah orang Jepang yang hadir yang terdiri dari mahasiswa dan dosen pada tahun ini cukup banyak. Ruang kelas berkapasitas 60 orang terisi penuh oleh orang-orang Jepang.

Salah seorang Japanese Muslim menyampaikan makna puasa, yang menurutnya puasa sesungguhnya menyadarkan kita tentang hakikat kemanusiaan kita. Manusia berbeda dengan Hewan yang melulu hanya menuruti hawa nafsu, tapi manusia juga bukan malaikat yang sama sekali tidak memiliki hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang dikaruniai nafsu namun dituntut untuk mampu mengendalikan nafsunya. Pada saat puasa, kita merasakan betapa kita memiliki keinginan yang kuat akan kebutuhan yang fisik berupa makan dan minum. Allah swt menunjukkan jati diri kita sebagai manusia yang dilengkapi dengan nafsu. Namun Allah swt memberi tantangan kepada kita untuk bisa membuktikan bahwa jati diri kemanusiaan kita sebagai makhluk yang memiliki nafsu sesungguhnya berbeda dengan hewan, karena manusia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk keluar dari hegemoni hawa nafsu. Manusia menjadi sebenar-benarnya manusia, menjadi sesejati-sejatinya manusia ketika mereka mampu melepaskan diri dari penjara-penjara hawa nafsunya.

Jepang, negeri maju yang mendasarkan kebijakan publiknya pada penghargaan pada kebebasan, merupakan negara dengan peradaban material yang hampir sempurna. Mereka kaya, mereka maju dan modern, dan pada saat yang sama mereka tidak merasa terikat pada hukum-hukum Tuhan, bahkan eksistensi Tuhan sendiri mereka ragukan. Dalam situasi ini, dimana kebebasan bertemu dengan kemajuan material, manusia memiliki ruang yang luas untuk bisa mengekspresikan segala tuntutan hawa nafsunya. Kalau di Indonesia misalnya, orang boleh memiliki hawa nafsu yang tinggi, tapi belum tentu mereka bisa mengekspresikan tuntutan hawa nafsunya dengan sempurna karena banyaknya keterbatasan. Contoh sederhana misalnya, banyak orang ingin memiliki makanan yang cukup bahkan berlebih, tapi tidak banyak orang Indonesia yang bisa memenuhinya. Hal yang seperti ini tidak terjadi di Jepang. Dengan kekayaan material yang mereka miliki mereka bisa membeli makanan sesuai dengan nafsu yang mereka miliki. Tidak ada keterbatasan dan tidak ada pembatasan.

Oleh karena itu puasa bagi orang Jepang juga bermanfaat untuk berlatih mengendalikan hawa nafsunya. Karena manusia yang tak mampu mengendalikan nafsunya sangat berpotensi untuk menjadi manusia destruktif. Nafsu yang tak terkendali terhadap makanan menyebabkan overweight bahkan obesitas. Nafsu yang tidak terkendali dalam hal eksploitasi lingkungan menyebabkan stabilitas lingkungan tergoncang. Nafsu yang tidak terkendali dalam hal konsumsi, menyebabkan banyak keluarga bahkan negara mengalami krisis dan kebangkrutan. Nafsu korupsi yang merajalela telah merampas hak rakyat untuk bisa hidup lebih sejehtera.

Semoga puasa kali ini membantu kita dalam menemukan hakikat kemanusiaan kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Dan letak kesempurnaan manusia dibanding hewan atau malaikat sekalipun tidak lain karena manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Semoga.

Puasa di Negeri Sakura (11):”Apakah Agama Perlu Adaptasi?”


Hari kesebelas, hawa panas masih memeluk erat kaum muslimin yang tengah berpuasa di negeri sakura. Suhu luar ruangan di Hakusan, tempat saya tinggal, menunjukkan angka 37oC pada pukul 13.00. Suhu yang terlalu panas cukup untuk melemahkan semangat beraktifitas. Orang Jepang menyebutnya “Natsu Bate”, suhu yang terlalu panas menguras begitu banyak energy sehingga orang malas melakukan banyak hal di luar rumah.

Sebagai seorang muslim, satu hal yang kita harus selalu yakin adalah bahwa Allah swt telah memberikan takaran yang pas, tidak ada kewajiban yang diberikan oleh Allah kepada ummatnya kecuali ummatnya mampu untuk melaksanakannya. Jika dianggap tidak semua manusia akan mampu melaksanakannya maka kewajiban tersebut pasti akan diberikan pengecualian. Meski panas luar biasa, meski berat begitu terasa, saya selalu berusaha meyakinkan anak-anak saya bahwa mereka mampu untuk melaksanakannya. Nasywa yang bulan depan akan berumur 6 tahun, masih semangat berpuasa meski sebentar-sebentar membuka pintu kulkas sambil berucap,”enak nih panas-panas minum”. Mungkin impian-impian akan hadiah yang diterimanya bila mampu menyelesaikan puasanya membuat Nasywa terus terpompa semangatnya.

Sore ini, dengan bersepeda, kami meluncur ke mesjid Otsuka. Sejak kemarin memang anak-anak ingin “safari” masjid dengan sepeda. Setelah sekitar 30 menit mengayuh sepeda kami sampai di masjid Otsuka. Masjid ini termasuk masjid yang tertua di Tokyo yang pembangunannya di inisiasi oleh muslim Pakistan di Tokyo. Masjid ini menjadi salah satu basis da’wah muslim Pakistan di Tokyo. Banyak diantara mereka yang menikah dengan orang Jepang dan mereka tinggal di sekitar masjid agar selalu bisa menghidupkan dan meramaikan masjid. Anak-anak mereka juga diajarkan untuk akrab dengan masjid, berbagai kegiatan untuk anak-anak dikembangkan, dari mulai belajar Qur`an sampai kamping bersama dengan anak-anak Jepang.

Hari ini kami memutuskan untuk berbuka puasa bersama dengan saudara-saudara Pakistan ini di masjid Otsuka. Kare Ayam khas Asia Selatan menjadi menu utama buka puasa hari ini. Saya dan anak pertama saya Haidar duduk melingkar bersama beberapa muslim Pakistan. Satu nampan untuk 4 orang, kami makan bersama, hal ini mengingatkan saya pada saat pertama saya ikut pesantren kilat beberapa belas tahun lalu.

Saat kami makan bersama dalam satu nampan, ada yang menarik dari brother Pakistan yang duduk di sebelah saya. Dia mengeluarkan satu botol berisi garam kemudian menuangkannya ke makanan di nampan yang dekat dengan sendoknya. Saya tanya mengapa dia menambahkan lagi garam. Dia bilang,” saya selalu membawa garam dalam tas saya. Garam ini yang membuat apa yang saya makan menjadi lebih terasa lezatnya”. Baru kali ini saya bertemu ada orang “kecanduan” garam.

Bagi yang pertama kali datang ke Jepang dan makan makanan Jepang memang akan merasa hambar dengan makanan Jepang. Lidah orang Jepang memang berbeda dengan lidah orang-orang Asia lainnya yang sangat suka pada rasa bumbu yang kuat. Orang jepang tidak suka hal yang terlalu manis, itulah salah satu sebab mangga Indonesia yang rasanya manis, yang sangat disukai orang Indonesia, tidak mampu bersaing dengan mangga philipina yang kemanisannya sudah diadaptasi dengan selera orang Jepang. Orang Jepang juga tidak suka yang terlalu asin, terlalu pedas, terlalu gurih. Sehingga banyak makanan yang harus diadaptasi, termasuk dengan kare India. Menurut teman yang duduk di sebelah saya Kare di Jepang ini rasanya hambar, jadi saya perlu memberi tambahan garam.

Adaptasi memang diperlukan dalam kerangka menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memiliki perbedaan-perbedaan termasuk perbedaan budaya dan selera. Adaptasi tentu berbeda dengan metamorphosis. Adaptasi hanya melibatkan atribut sementara metamorphosis melibatkan perubahan identitas dan jati diri secara fundamental. Proses metamorphosis dapat kita lihat pada perubahan yang terjadi dari ulat, kepompong dan kupu-kupu. Ulat dan Kupu-kupu adalah dua mahluk yang bebeda identitas, berbeda jatidiri. Adaptasi sedianya tidak menghilangkan jati diri. Kare India yang dikurangi rasa asin dan pedasnya tetap menjadi Kare India karena identitas utama Kare tidak hilang. Ketika Kare India dihilangkan airnya misalnya, tentu hal ini merupakan perubahan mendasar yang menyebabkan makanan tersebut berganti identitas dan tidak bisa lagi disebut kare India. Hal yang seperti ini tidak bisa disebut adaptasi melainkan metamorphosis, perubahan yang melibatkan ciri dasar sehingga menyebabkan perubahan identitas. Begitu juga mangga yang dikurangi rasa manisnya, dia tetap menjadi mangga selama tidak kehilangan jati diri ke “mangga” an nya yang sesuai dengan ciri-ciri dan prasyarat buah untuk  bisa disebut mangga.

Banyak orang-orang gandrung dengan kata adaptasi ini, sampai-sampai ada sekelompok orang yang merasa agama dan praktek keberagamaan juga perlu diadaptasi. Sehingga agama yang sejatinya bersifat universal dipaksa menjadi bersifat lokal. Tapi sayangnya apa yang dikatakan sebagai proses adaptasi ini sebenarnya bukan adaptasi tapi metamorphosis. Kalau di Indonesia orang sholat menggunakan Sarung dan Peci hitam sementara di Arab menggunakan Jubah, maka kita bisa menyebutnya sebagai proses adaptasi. Kalau masjid di suatu negara ada kubahnya, di negara lain tidak berkubah, ini adalah adaptasi. Dan adaptasi, penyesuaian-penyesuaian dalam hal atribut semacam ini sama sekali tidak terlarang. Tapi kalau agama mengajarkan sholat 5 waktu, haji ke mekkah di bulan haji, tuhannya Allah dan nabinya Muhammad, namun atas nama adaptasi mereka merubahnya misalnya haji boleh ke kota lain selain mekkah atau boleh pada waktu lain diluar bulan haji, dan percaya ada nabi lain setelah Muhammad SAW, tentu ini bukanlah proses adaptasi, melainkan proses metamorphosis, proses perubahan Identitas. Sebagaimana Kupu-kupu tidak bisa disebut Ulat, maka jika ada yang memaksakan perubahan-perubahan terhadap ajaran dasar Islam, maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai Islam.

Ini hanyalah premis sederhana, mudah-mudahan kita tidak terkecoh pada orang-orang yang mengkampanyekan proses adaptasi dalam agama, padahal sebenarnya mereka tengah berusaha merubah identitas dasar dari agama itu sendiri. Islam yang sejatinya agama universal sesungguhnya compatible dengan manusia di berbagai belahan dunia, adaptasi tentu boleh dilakukan, tapi metamorphosis sama sekali tidak diperlukan. Wallahu`alam.

Puasa di Negeri Sakura (10): “Puasa Kendali Amarah”


Kerusuhan di London menjalar ke kota-kota besar lain di Inggris. Ramadhan yang khidmad dan damai bagi muslim Inggris tercemar dengan terbunuhnya 3 orang muslim di Birmingham. Banyak pengamat mencoba menjelaskan sebab-sebab kerusuhan sosial yang semakin luas menjalar ini, seperti arogansi polisi yang telah membunuh sembarangan tanpa mau mengakui kesalahannya, kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin menganga antara si miskin dan si kaya, sampai pada masalah-masalah rasial.

Dari semua analisis yang muncul ke permukaan, ada pandangan menarik yang disampaikan oleh professor John Pitts. Menanggapi kerusuhan yang terjadi di Inggris saat ini, John Pitts, seorang kriminolog dan penasihat pemerintah lokal London, mengatakan bahwa sebagian besar perusuh berasal dari kantong-kantong kemiskinan, mereka tak punya karier yang harus dipikirkan, mereka hidup di pinggiran, marah, kecewa, mereka tidak takut kehilangan apa pun.

Keberanian para perusuh, yang umumnya adalah remaja, lahir karena mereka tidak memiliki beban apapun yang dikhawatirkan akan hilang jika mereka “mengekspresikan” kebebasannya. Mereka tidak memiliki pekerjaan apalagi karir, sehingga mereka tidak takut ada pemecatan karena memang mereka tidak memiliki bos yang akan memecat mereka. Dalam konteks ini, kelas menengah yang selama ini selalu dianggap sebagai kelompok yang paling efektif untuk melakukan perubahan-perubahan boleh dipertanyakan ulang. Realitas di London menunjukkan bahwa kemarahan rakyat yang termobilisasi bisa terjadi di semua kelas, termasuk kelas bawah yang selama ini termarjinalkan dan termiskinkan.

Tentu mobilisasi kerusuhan yang didemonstrasikan dengan aksi penjarahan dan kekerasan sama sekali bukanlah tindakan yang dapat dibenarkan, baik oleh hukum sosial maupun hukum agama manapun. Namun jika kita melihat jumlah orang yang berpartisipasi yang melebihi angka 1000 orang, tentu hal ini bukanlah kejadian biasa yang tanpa pesan dan makna. Setiap gejala sosial yang di luar kebiasaan selalu memberikan tanda yang mesti direspon dengan tepat. Kesalahan menangkap pesan yang melahirkan kesalahan respon akan menyebabkan eskalasi kerusuhan menjadi tak terkendali.

Kerusuhan di Libya dan Syiria memberi pesan bahwa rakyat sudah bosan mengalami penindasan, dan hari ini mereka melakukan perlawanan. Eskalasi perlawanan semakin meningkat dan menjadi sulit dibendung karena pemerintahan yang bebal tak mampu dan tak mau menangkap pesan yang disampaikan.  Di Indonesia, kita juga memiliki pengalaman serupa pada tahun 1998. Orde Baru yang semakin menua ketika itu tak mampu menangkap pesan dari gerakan massa. Kerusuhanpun pecah dan tuntutan massa menjadi tak terkendali sehingga rezim harus diganti.

Kerusuhan di Inggris memberi pesan bahwa kemiskinan yang diabaikan pada akhirnya melahirkan remaja-remaja pemberang, remaja-remaja yang tidak memiliki beban untuk memobilisasi penjarahan untuk mengekspresikan perlawanannya terhadap ketidakadilan ekonomi. Lihatlah pesan yang disebar untuk memobilisasi kemarahan massa. Para inisiator mengatakan,”Jika kamu hendak mencari uang, maka kami akan meluncur ke timur London. Saya tidak peduli dari mana kamu, kami mengundangmu untuk datang. Polisi telah melakukan hal buruk terlalu lama dan saya tidak tahu mengapa kita harus menunggu lama untuk mewujudkan ini. Kami butuh minimum 200 orang lapar”.

Sepuluh hari pertama puasa di negeri sakura pada tahun 1432H ini ditutup dengan keprihatinan dan kekhawatiran pada berbagai kerusuhan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Semoga kerusuhan sosial yang terjadi di negera-negara timur tengah dan Eropa tidak menular ke Indonesia, meski sebab-sebab potensial untuk pecahnya sebuah kerusuhan sosial sudah mulai terlihat. Ketidakadilan ekonomi sebagaimana yang terjadi di Inggris dan pemerintahan yang abai terhadap aspirasi rakyat sebagaimana yang terjadi di negara-negara timur tengah sudah tersedia di Indonesia. Semoga ramadhan mampu mengendalikan potensi kemarahan massa atas ketidakadilan ekonomi dan hukum yang selalu dipertontonkan secara demonstratif oleh elit-elit pengelola negara. Dan semoga ramadhan mampu melahirkan kesadaran baru dari elit-elit pengelola negara agar tidak salah menangkap pesan publik dan melaksanakannya secara efektif. Semoga.

Puasa di Negeri Sakura (9):”Terasing di Jalan Tuhan”


Suatu hari teman saya pernah mengatakan, “kalau ada birokrat yang bersih pasti dia mahluk langka”. Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok mengatakan dalam acara Jakarta Lawyers Club “politik tidak mungkin bersih-bersih sekali”. Jadi kesimpulannya, kalau ada politisi yang mengambil jalan bersih yang notabene adalah jalan Tuhan, boleh dibilang politisi semacam ini akan menjadi politisi kesepian, politisi langka yang dijamin tidak akan dinominasikan lagi oleh partainya di pemilihan umum yang akan datang. Para pebisnis terlebih lagi para pemburu proyek dipemerintahan juga sering mengatakan,”kalau terlalu jujur susah dapat keuntungan”.

Hal-hal di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa memilih jalan Tuhan di tengah kehidupan modern seringkali dianggap memilih keterasingan. Dalam tataran ucapan, jutaan rakyat ingin kejujuran dan keterbukaan, namun dalam hal tindakan kejujuran dan keterbukaan menjadi hal yang menakutkan sehingga seringkali tidak diinginkan. Tentu kita masih ingat pada tragedi di desa Gadel Surabaya, dimana siswa dan keluarga yang mempertahankan kejujurannya dengan menolak rancana nyontek massal yang direncakan sekolah malah menjadi musuh bersama dari seluruh warga desa. Di sini jelas, menjadi baik saja ternyata tidak cukup. Komitmen pada kebaikan, komitmen pada ajaran-ajaran Tuhan harus juga disertai dengan keberanian dan kesabaran.

Puasa di tengah mayoritas orang yang tidak berpuasa juga membutuhkan keberanian dan kesabaran, karena keterasingan bisa jadi akan sangat dirasakan. Paling tidak inilah yang dirasakan anak-anak saya saat kami berada di Tokyo dome city sore tadi. Anak saya bilang, “enak ya, orang-orang jepang itu bisa makan kapan aja, nanti kalau sekolah udah masuk Mas gak puasa ya”. Saya tanya dia mengapa tidak mau puasa. Anak saya bilang,”kan malu, semua orang makan, masa cuma Mas yang gak makan”.

Puasa di tengah orang tidak berpuasa tentu memberikan tantangan tersendiri, tantangan untuk berani berbeda, tantangan untuk mengendalikan diri dari rasa tidak enak atau rasa minder karena sendirian, tantangan untuk menjadi manusia yang terasing di tengah keramaian. Begitulah memegang ajaran Tuhan di tengah “kegelapan” peradaban, sungguh sangat berat sekali. Bahkan Rasulullah mengibaratkan laksana memegang bara, dipegang panas terbakar, dilepas gulita menghadang. Di Jepang ini masih jauh lebih baik keadaannya bila dibanding dengan negeri-negeri Eropa dan Amerika yang memiliki sentimen agama yang luar biasa. Kebencian mereka terhadap Islam terekspresikan di Belanda oleh politisi semacam Wilder, terlembagakan di Prancis dengan undang-undang pelarangan Jilbab, menjadi budaya di Denmark dengan kebebasannya menghujat nabi lewat lukisan. Menjadi Islam di negeri-negeri Eropa tentu membutuhkan keberanian dan kesabaran yang luar biasa.

Menjadi asing atau bahkan diasingkan oleh lingkungan adalah hal biasa bagi mereka-mereka yang komit pada jalan Tuhan, apalagi di akhir zaman. Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan bahwa Islam pertama kali datang dianggap asing dan kelak akan kembali dianggap asing. Dianggap asing karena memilh jalan Tuhan yang benar dengan sepenuh-penuhnya kesadaran tentu bukanlah persoalan. Malah Rasulullah menganggap beruntung orang-orang yang dianggap asing karena memegang kebenaran.

Dalam konteks ini, seorang yang sedang meniti jalan impian, seorang yang tengah mengejar tujuan dan cita-cita kemenangan yang besar tidak perlu memaksakan diri untuk selalu melakukan tindakan populis hanya demi memuaskan orang kebanyakan jika memang hal tersebut sama sekali tidak terkait dengan impian besar yang sedang dikejar. Tidak sedikit kita menemukan saudara-saudara kita, dengan alasan “menghormati” teman yang hobi minum wine mereka minum wine,  atasnama persahabatan mereka rela meninggalkan Islam, karena alasan pekerjaan mereka melupakan perintah Tuhan.

Diasingkan sesungguhnya bukanlah persoalan, yang menjadi soal adalah jika kita sengaja lari menuju alam “pengasingan”, alias menyepi, mencari jalan kenikmatan syurgawi sendiri. Tentu hal ini bukanlah ajaran para nabi. Ketika berpegang pada jalan Tuhan dianggap sebagai suatu keanehan, justru kita harus datang, harus hadir di tengah-tengah keramaian dengan membawa keyakinan kita akan kebenaran. Jika kita memilih jalan pengasingan, bagaimana kebenaran bisa tersampaikan? Sekali lagi, tentu hal ini membutuhkan keberanian dan kesabaran, karena memang tidak jarang kita menemukan orang-orang yang sangat takut diasingkan oleh lingkungan sehingga mereka lebih memilih menjadi manusia-manusia yang terasing di jalan Tuhan. Semoga kita tidak seperti itu.

Puasa di Negeri Sakura (8):”Menilai Ulang Karunia Tuhan”


Jalan menuju kemenangan tidak selalu terbentang dengan berbagai kemudahan. Tapi juga tidak boleh dibayangkan sebagai jalan yang selalu penuh dengan kesulitan. Keduanya selalu datang secara seimbang selama kita selalu jernih dalam menghadapi situasi. “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”, begitu Al-Quran mengatakan. “Jangan terlalu sedih dengan kesulitan yang datang dan jangan terlalu senang dengan berbagai kemudahan”, begitu selalu saya tanamkan pada anak-anak saya.

Puasa di hari ke delapan Alhamdulillah berhasil dituntaskan oleh kedua anak saya dengan baik. Meski selalu mengeluh dan menjerit lapar saat sore menjelang, namun pada akhirnya mereka gembira ketika waktu maghrib tiba. Benarlah apa yang dikatakan oleh Rosulullah SAW ketika beliau mengatakan bahwa saat berbuka merupakan salah satu kegembiraan bagi orang yang berpuasa. Inipun dirasakan juga oleh anak-anak saya.

Puasa benar-benar memberikan pembelajaran yang berkesan kepada anak-anak saya, bahwa kegembiraan yang kita dapatkan setelah kesulitan melahirkan “sensasi” yang luar biasa. Saat berbuka anak saya bilang, “es buahnya enak sekali ya Bi kalau dimakan abis puasa”. Es buah yang diminum untuk berbuka puasa pada sore ini sebenarnya es buah yang biasa diminum di hari-hari lain sebelum puasa. Tapi anak saya merasakannya secara berbeda. Biasanya mereka minum tanpa harus menunggu waktu yang lama, saat mereka menginginkan dan kebetulan ada, mereka bisa dengan mudah mendapatkannya. Namun saat puasa, mereka harus berjuang menahan diri, merasakan lapar, kehausan dan kesulitan sebelum bisa merasakan es buah. Sehingga ketika waktunya datang, mereka betul-betul merasakan kenikmatan yang bebeda meski meminum minuman yang sama.

Keberhasilan yang kita peroleh setelah mengeluarkan totalitas perjuangan dan pengorbanan akan melahirkan sensasi dan kenikmatan yang berbeda dengan keberhasilan yang kita peroleh dengan jalan pintas yang dipenuhi berbagai kemudahan. Kemampuan dalam mensyukuri nikmat juga berbeda antara mereka yang memperolehnya dengan perjuangan dan mereka yang mendapatkannya tanpa perjuangan.

Terkadang kita melihat orang dengan mudah membuang-buang makanannya. Mereka tidak merasakan nilai yang tinggi dari makanan yang dimiliki, karena memang mereka bisa mendapatkannya dengan mudah. Kemudahan ini terkadang menyebabkan orang kurang mampu mensyukuri kenikmatan.

Puasa sesungguhnya memberikan pembelajaran yang penting bagi kita tentang bagaimana mensyukuri kenikmatan. Dengan merasakan haus dan lapar, merasakan kesulitan seharian, kita akan mampu memberikan penghargaan yang tertinggi terhadap makanan apapun yang tersedia saat berbuka. Dengan puasa kita mampu merasakaan kenikmatan yang berbeda untuk makanan yang sama, itu artinya dengan puasa kita akan lebih mampu menilai ulang berbagai karunia Tuhan yang selama ini kita rasakan. Dengan begitu puasa sejatinya akan melahirkan kita menjadi manusia baru, yakni manusia yang pandai bersyukur. Semoga.

Puasa di Negeri Sakura (7):”Totalitas Untuk Cita-Cita Besar”


Puasa pada hari ke tujuh tahun ini bertepatan dengan hari ahad. Di Tokyo, Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) melaksanakan buka buasa bersama untuk masyarakat Indonesia yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya setiap ahad. Pertemuan dengan orang-orang Indonesia dan makan makanan Indonesia di tanah rantau membawa saya pada kerinduan pada tanah Indonesia. Saya yakin hal ini juga dirasakan oleh orang-orang Indonesia lain yang telah lama menetap di Tokyo. Kalau sudah begini, perasaan ingin segera kembali ke Indonesia seringkali memporak-porandakan jiwa saya.

Orang-orang Indonesia pada umumnya terikat pada tanah airnya, inilah yang berbeda dengan bangsa India, Arab dan China. Jarang sekali orang-orang Indonesia yang berkeinginan menetap di negara lain untuk selamanya, kecuali mereka yang telah membangun rumah tangga dengan masyarakat lokal.  Berbeda dengan orang-orang India, Arab dan China, mereka merantau memang ingin membangun masa depan di tanah rantau. Oleh karena itu mereka lebih bersikap totalitas dalam membangun kehidupannya di tanah rantau, termasuk di Jepang ini. Sementara orang-orang Indonesia, banyak sekali yang bersikap ambigu terhadap masa depannya. Ingin tetap bertahan di Tanah rantau tapi kerinduan pada kampunng halaman begitu kuat, sementara ingin kembali ke Tanah air seringkali terbentur pada pertanyaan dasar,”apakah masih bisa membangun masa depan di sana?”. Karena memang lapangan kerja seringkali tidak mudah ditemukan.

Acara buka puasa bersama KMII yang diselanggarakan di Sekolah RI Tokyo diisi ceramah oleh Ustad Dwi Triyono yang didatangkan khusus dari Bali. Sebagai muslim yang hidup di tengah penduduk mayoritas Hindu, beliau berbagi pengalaman bagaimana berlaku menjadi warga minoritas, dan bagaimana berda`wah dalam situasi minoritas. Beliau bercerita bagaimana dulu Islam dibawa oleh Muhammad dan dikembangkan bersama sahabat-sahabatnya sesungguhnya juga dalam keadaan minoritas. Beliau juga bercerita bagaimana Islam masuk ke Indonesia dan dikembangkan oleh para wali yang juga dalam keadaan minoritas.

Nabi bersama sahabatnya yang awalnya minoritas mampu mengubah keadaan dan menjadikan Islam sebagai agama mayoritas. Begitupun para wali dan penyebar Islam di Indonesia pada abad 15 yang kemudian mampu merubah Indonesia menjadi negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Keberhasilan-keberhasilan besar itu adalah hasil dari keberanian mengikatkan diri pada tujuan-tujuan besar secara total dimana Nabi, para Sahabat dan para Ulama setelahnya telah memberikan totalitas perjuangan dan pengorbanannya untuk Islam.

Tidak ada keberhasilan besar yang bisa diraih tanpa totalitas tujuan, perjuangan dan pengorbanan. Puasa mengajarkan kita untuk meraih tujuan-tujuan besar dengan totalitas perjuangan dan pengorbanan. Para sahabat, ketika menjelang ramadhan selalu menyiapkan dirinya secara total guna mencapai kesuksesan besar. Mereka bekerja keras selama berbulan-bulan, mengumpulkan berbagai persediaan, yang dengan itu mereka tidak perlu bekerja selama sebulan penuh di saat ramadhan, karena mereka ingin memberikan totalitas perjuangan dengan sepenuh-penuhnya beribadah guna meraih kesuksesan di bulan penuh berkah ini.

Totalitas perjuangan dan pengorbanan selalu ditunjukkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Hal ini dapat kita lihat dari karakter mereka. Al-Qur`an menggambarkan mereka laksana “Singa di siang hari dan rahib di malam hari”. Di medan kehidupan mereka berjuang luar biasa laksana singa, dan dalam hal ibadah mereka berusaha luar biasa laksana rahib. Inilah totalitas perjuangan dan pengorbanan untuk meraih cita-cita kemenangan dunia dan akhirat yang telah ditunjukkan pasa sahabat.

Menjadi manusia yang mampu menyerahkan totalitas perjuangan dan pengorbanannya untuk sebuah cita-cita besar tentulah tidak mudah. Godaan-godaan untuk memilih jalan termudah seringkali menghalangi kita untuk mengeluarkan seluruh perjuangan dan pengorbanan demi sebuah cita-cita besar. Inilah yang menyebabkan sebuah bangsa sulit untuk bergerak maju, karena memang tidak ada hasil besar yang bisa diraih tanpa pengorbanan yang besar. Wallahu`alam.

Puasa di Negeri Sakura (6):”Lakukan Sesuai Kemampuan”


Musim panas mulai menunjukkan jati dirinya di hari ke enam romadhan. Matahari yang panas membara menjadi tantangan sendiri untuk menguji stamina dan daya tahan muslim yang berpuasa. Tepat pukul 13.00 Nasywa sudah mulai mengeluh lapar dan haus. “masih berapa lama lagi Bi?” tanya nasywa sambil memegangi buku yang baru dipinjamnya dari perpustakaan. Saya katakan padanya, “Nasywa tidur dulu ya, nanti sore habis sholat ashar kita main sepeda”. Nasywa lalu menjawab,”perutnya sakit nih Bi, gak bisa tidur kalau lagi lapar”.

Sambil terus membujuk Nasywa untuk mau mempertahankan puasanya sampai maghrib, saya mengajak Nasywa bermain. Menit demi menit berlalu, sambil sesekali mengeluh lapar, Nasywa masih terus mencoba untuk bertahan. Hari ini sebenarnya Nasywa sangat semangat berpuasa. Semalam saya sampaikan kepada anak-anak saya, setiap kali mereka bisa selesai puasa sampai maghrib saya berikan hadiah 1000 Yen. “kalau bisa puasa 20 hari aja Nasywa dapat 20.000 yen ya Bi, nanti lebaran Nasya bisa beli Nintendo baru dong”, sambut Nasywa sambil mencorer-coret hitungan di bukunya. Nintendonya memang sudah rusak, sehingga dia semangat sekali ketika saya janjikan “puasa berhadiah”.

Tapi semangat saja ternyata tidak cukup untuk menuntaskan perjuangan meraih cita-cita. Semangat harus bertemu dengan kemampuan yang merupakan hasil dari persiapan yang matang. Untuk bisa berpuasa dengan baik, Rosulullah mengajarkan kita agar makan sahur yang cukup, mengakhirkan waktu sahur dan menyegerakan berbuka. Ini adalah bagian dari proses mematangkan persiapan agar kita mampu menuntaskan puasa kita. Terkadang banyak diantara kita yang tidak mampu mempersiapkan dirinya dengan matang namun berharap keberhasilan yang gemilang. Orang-orang seperti ini tidak jarang akan terkapar ditengah jalan impian, tak mampu meneruskan perjalanan dalam menuntaskan apa yang dicita-citakan.

Nasywa sangat semangat ingin menuntaskan “puasa berhadiah”nya. Tapi sayang, saat sahur, Nasywa bilang kalau dia sangat mengantuk, akibatnya dia tidak makan sahur dengan cukup. Bahkan susu segelaspun tidak mampu dia habiskan karena begitu ngantuknya dia. Persiapan yang kurang matang ini menyebabkan Nasywa kesulitan untuk mengekspresikan kemampuannya secara optimal.

Sekitar pukul 14.30-an Nasywa sudah guling-guling di kasurnya sambil memegang perutnya. “Abi, perut sakit banget nih, makan sekarang ya…” Akhirnya saya mengatakan pada Nasywa,”ya udah puasa sekuatnya aja, nanti kalau Nasywa sudah benar-benar gak kuat Nasywa boleh buka puasa duluan”. Tepat pukul 15.00 Nasywa akhirnya berbuka puasa. Dia sudah menyelesaikan sekitar ¾ perjuangannya menahan haus dan lapar. Sebagai bentuk fairness dan mengapresiasi perjuangan nya, saya berikan Nasywa ¾ dari hadiah 1000 yen yang sudah dijanjikan. “Nasywa sudah melakukan hal terbaik yang dia mampu”, pikir saya dan saya tidak akan menuntut Nasywa untuk memaksakan diri yang diluar kemampuannya.

Ya, Allah memang mengajarkan kita untuk melakukan hal terbaik sesuai dengan kemampuan kita. Puasa juga mengajarkan kita melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan. Kalau kita lihat perintah puasa ini, asal nya wajib dan diwajibkan kepada seluruh orang beriman. Namun Allah memberikan keringanan kepada mereka yang sedang melakukan perjalanan, mereka yang sakit, mereka yang tengah hamil untuk menunda puasa di waktu lain di saat mereka memiliki kemampuan yang lebih baik. Bahkan Allah membebaskan kepada orang-orang tua yang memang tidak mampu untuk mengganti puasanya dengan membayar fidyah. Semua benar-benar disesuaikan dengan kemampuan, dan bahkan Allah sendiri berjanji tidak akan membebani manusia kecuali sebatas kemampuannya.

Ketika Allah memberi kita keringanan untuk melakukan sesuatu sesuai kemampuan, maka tugas kita sesungguhnya adalah bagaimana menunjukkan kemampuan terbaik yang kita miliki, dan kemampuan terbaik hanya bisa kita tunjukkan kalau kita sudah mempersiapkannya dengan matang. Jadi tugas kita dalam meraih sebuah cita-cita sebenarnya adalah bagaimana mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, agar kita bisa menampilkan kemampuan terbaik, dan karenanya kita berhak atas hasil-hasil terbaik. Wallauhu`alam.